Skip to main content

Grateful You're Mine

 Have I ever told you lately, I'm grateful you're mine - Nothing, Bruno Major.

Pagar hitam rumah itu sudah terbuka lebar mempersilahkan aku dan mobilku untuk masuk ke halaman rumah. Seseorang dengan sweater abu-abu berdiri di teras rumah sambil tersenyum lebar. Senyuman yang aku rindukan karena sudah empat bulan kami tidak bertemu secara langsung karena tuntutan pekerjaannya. Senyuman terhangat yang selalu menyambutku setiap kali aku pulang ke rumah. Menuju dia.

Tanpa basa-basi, dia pun langsung memelukku dengan erat saat aku keluar dari mobil. Bau parfum itu. Bau yang selalu jadi favoritku selama tiga tahun terakhir, yang selalu mengingatkanku tentang dia.
"I've missed you, really," kata dia.
"So am I, Mas," balasku sambil menatap matanya. "Hari ini nggak usah ke mana-mana aja kali ya? Kamu kan baru sampai rumah, pasti capek banget. Istirahat aja ya hari ini. Tapi bantuin aku bawain belanjaan di belakang dong, tadi aku belanja dulu soalnya pasti kulkasmu kosong kan, Mas"
Dia pun mengacak-ngacak rambutku lalu menuju ke pintu belakang untuk membawakan kantong belanjaan berisi makanan dan kebutuhan rumah sehari-hari.
"Ini aku taruh di dapur aja kan ya, Ya?" tanya dia.
Aku pun mengangguk, sambil membawa sisa kantong belanjaan aku pun berjalan di belakang Mas Satya. Iya, namanya Satya, Satya Himawan. Seseorang yang sudah tiga tahun terakhir ini menjadi rumah tempatku pulang.
"Makan malam nanti mau pasta aja nggak? Tadi aku abis belanja bahan-bahan buat bikin aglio olio,” tanyaku sambil membongkar dan merapikan belanjaan tadi di meja dapur.
“Apa aja bebas, Ya. As long as kamu nggak kerepotan dan nggak kecapaian. Kamu kan abis kerja pasti capai,” jawab Mas Satya yang berdiri mengawasiku sambil membantu menyusun makanan di rak atas.
“Buat kamu nggak ada yang namanya repot, Mas. Udah sana kamu duduk aja di sofa sambil nonton, biar aku yang beberes sama masak. Istirahat dulu sana pasti kurang tidur kan selama di rig,” kataku.
Selagi memasukkan makanan ke kulkas, aku merasakan Mas Satya memelukku dari belakang lalu mengecup kepalaku.
“Ya, let me tell you something. I’m grateful that I met you and thank you for staying by my side like always, Ya. I just couldn’t imagine my life without you. Kamu tahu kan aku nggak jago bikin kata-kata romantis tapi I just want you to know that I want to spend the rest of my life only with you, Ya. Let’s grow old together. Be my home. Be my do-weird-things-and-laughing-partner for forever, will you?” tanyanya dari belakangku.
Jantungku berdegup kencang karena dia nggak pernah semanis ini sebelumnya. Aku melepas pelukan Mas Satya lalu berbalik menatap matanya. Mata yang teduh dan menenangkan. Mata yang selalu menatapku penuh kasih sayang, seperti mata Papa setiap kali menatapku. Mas Satya tersenyum sambil membuka sebuah kotak beludru warna merah berisikan cincin.
“Mas, terima kasih udah selalu sabar sama sifat childish dan moodyanku ini. Terima kasih kamu adalah orang paling pengertian selama ini. Terima kasih udah mau berjuang bareng-bareng. Well, let me annoy you for the rest of your life,” jawabku sambil tersenyum. Lalu tiba-tiba suasana jadi ramai dengan sorakan gembira. Ternyata itu keluargaku, keluarga Mas Satya, sahabat-sahabatku, dan sahabat-sahabat Mas Satya.
Mas Satya memasangkan cincin di jari manisku lalu memeluk dan mencium keningku lama tapi hangat.
“Terima kasih ya, Adya. I’m grateful knowing that you’re mine,”

 

Ssst, bonus foto candid Mas Satya waktu kita lagi jalan-jalan di taman hiburan favorit kita!



Comments