Skip to main content

Patah Hati

Kira-kira bulan Maret tahun 2019. Itu pertama kalinya saya patah hati karena seorang pria. Setelah kurang lebih 3 tahun dekat dan saling mengisi hari-hari bersama, akhirnya kami atau lebih tepatnya dia memutuskan untuk berhenti berjuang bersama. 
Buat saya, dia itu yang pertama jadi saya masih awam. Saya jatuh sedalam-dalamnya ke dia jadi saat dia pergi saya hilang sehilang-hilangnya. Yang saya ingat, saya merasa hampa. Rasanya ada separuh dari diri saya hilang. Dia sudah jadi kebiasaan saya selama beberapa tahun belakangan jadi saat dia pergi saya bingung. I were totally lost, i guess.

Setiap hari selalu ada pertanyaan melintas dengan awalan "Kalau aja". Kalau aja saya nggak insecure sama diri sendiri, kalau aja saya nggak posesif, kalau aja saya nggak banyak ngelarang, kalau aja saya begini, kalau aja saya begitu pasti semua ini nggak berakhir. But then I realise, mungkin memang harus begitu jalannya. He came to me as a blessing in disguise. Saya harus belajar dari dia untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Saya harus belajar untuk mengalahkan sifat egois saya dalam membangun suatu hubungan. Saya harus belajar untuk lebih menerima diri saya sendiri dulu. Saya harus belajar kalau nggak ada yang abadi di dunia ini. Dan saya juga harus belajar bahwa jangan terlalu berlebihan dalam mencintai orang lain karena yang berlebihan itu nggak baik. 

Setelah berpisah, saya akhirnya mencoba banyak hal. Mulai dari main ukulele, belajar watercolour painting, main miniblock, sampai mulai rajin baca buku. Saya mulai mencari hal-hal positif lainnya agar saya lupa sama rasa sedih saya. Saya jadi mulai mengenal diri saya. Saya jadi mulai mengembangkan diri saya. Saya merasa I'm evolving to be a better person.

Tapi tapi tapi kadang-kadang saya juga masih suka merasa sedih, masih suka kangen kebiasaan bersama-sama dulu, kangen berdiskusi bersama. Menurut saya sih wajar aja jadi pas lagi merasa seperti itu dan butuh menangis saya akan menangis. Nggak ada salahnya untuk menangis. Menangis kadang membantu buat mengeluarkan emosi dan meringankan beban kok.  

Udah ah saya nggak mau bertele-tele. Jadi, terima kasih buat kamu yang sudah mengajarkan saya banyak hal. Kamu bukan kesalahan di hidup saya karena saya yakin kamu hadir untuk membantu saya berkembang, membantu saya mengenal diri saya, membantu saya menjadi manusia yang lebih baik lagi, dan membantu saya mengetahui bagaimana caranya bangkit dari keterpurukan. 

I'm wishing you a beautiful and good life, really. Thank you for coming into my life. Saya senang bisa mengenal kamu :) 

Surabaya,
5 Juli 2020

Tertanda, Nesha yang masih belajar untuk merelakan dan berkembang jadi orang yang lebih baik lagi.

Comments